“GOOD BYE MOM”

Awalnya aku tidak mengetahui apa yang terjadi pada ibuku. Ibuku bersikap aneh akhir-akhir ini. Bukan hanya kepadaku tapi kepada ayah, kakak-kakakku, dan setiap orang yang ditemuinya. Waktu itu aku masih kelas 3 sekolah menengah kejuruan. Karena menjelang Ujian Nasional jadi aku harus giat belajar agar nanti aku lulus dengan nilai yang maksimal. Aku tidak begitu memperhatikan keadaan ibuku. Ibuku memang sudah sakit sejak lama, ia menderita diabetes. Sebelumnya ia juga pernah masuk Rumah Sakit dan dirawat di Rumah Sakit tersebut. Ibuku pun akhirnya sembuh. Tapi kejadian itu sudah lama sekali. Di masa-masa kesembuhan ibuku, ibuku tidak memperhatikan kesehatannya. Ia selalu makan banyak dan tidak memikirkan penyakit yang dideritanya. Karena pada waktu itu aku tidak mengetahui apa-apa tentang penyakit diabetes jadi aku tidak begitu memikirkan apa saja yang dimakan oleh ibuku.

Selang berapa lama penyakit ibuku kambuh kembali. Ibuku kembali dirawat. Di Rumah sakit ibuku bertingkah aneh, ia seperti orang pikun, ku pikir karena usianya yang sudah tua. Disana ibuku hanya dirawat beberapa hari saja, karena ia sudah tidak betah. Ibuku meminta kepada ayahku agar ia segera pulang. Padahal kondisi ibu waktu itu masih belum membaik. Akhirnya karena ayahku terus didesak oleh ibuku, ibuku pun pulang kerumah.

Sampai dirumah ibuku istirahat untuk memulihkan kondisinya sehabis ia dirawat di Rumah Sakit. Selama ibuku sakit, ibu tidak pernah melakukan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Ayahku sungguh sangat menyayangi ibuku dan ia memakluminya dan tidak pernah mengeluh.

Beberapa hari setelah ibu pulang dari Rumah Sakit, sikapnya semakin aneh, ibuku jadi sangat sensitive, sering lupa apa yang sudah dia lakukan, dan cepat sekali sedih. Sikap ibuku membuat ia jadi sangat berbeda dari yang kukenal. Aku jadi tidak mengerti mengapa ibuku seperti ini.

Aku ingat sekali, waktu itu di sekolahku mengundang orang tua untuk menghadiri suatu acara. Saat itu ibuku hadir dan ia mencariku. Aku tidak tahu kalau ibuku sudah datang. Kemudian ada adik kelas yang memberitahuku, “kak, ibu kakak ada di bawah sedang mencari kakak.” “Oh, iya terima kasih” jawabku. Aku langsung turun kebawah dan cepat-cepat menemui ibuku. Disana terlihat ibuku sedang menungguku, setelah bertemu denganku tiba-tiba ibu menangis dan aku pun langsung terkejut, “kenapa ibu menangis?” tanyaku. “ habis kamu lama, ibu sudah menunggu kamu dari tadi” jawab ibuku. Disitulah aku merasa ibuku menjadi bersikap aneh.

Sebenarnya tidak hanya itu saja ibuku bersikap aneh. Di rumah ibuku termasuk orang yang rajin beribadah dan selalu tepat waktu. Tapi semenjak ibu sakit, ibuku selalu solat sebelum adzan berkumandang. Apabila sudah solat, ibuku selalu mengulanginya dua kali bahkan sampai tiga kali. Aku seringkali memberitahu ibuku, “ibu kenapa solat lagi? Bukankah tadi ibu sudah solat? Sekarang belum adzan, bu.” Kemudian ibuku menjawab “ memang sudah ya, sepertinya belum.” Lalu ibuku solat tanpa mendengarkan perkataanku.

Setiap hari ibuku selalu melakukan hal itu, dan hal itu membuat aku aneh. Bahkan bukan aku saja yang merasakan kalau ibuku bersikap aneh tapi ayah dan kakak-kakakku pun merasakannya. Tapi kami semua tetap tidak menyadari dan mengerti kenapa ibu kami seperti itu. Kami hanya tahu kalau ibu sakit.

Sehari sebelum ujian, tiba-tiba ibuku sakit. Badanya sangat panas, dia terus muntah-muntah. Aku sangat kasihan melihatnya. Kemudian ayah membawa ibu ke puskesmas terdekat. Disana ibuku langsung segera diperiksa kemudian dikasih obat dan di infuse. Ku kira ibu cuma menderita sakit biasa, tapi ibuku dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar.

Setelah ibuku dipindahakan aku belum melihat keadaanya. Disana ia dijaga oleh kakakku. Ayahku selalu menjenguk ibuku setelah ia pulang bekerja. Aku belum bisa menjenguk ibuku karena pada saat itu aku masih ujian. Aku sangat sedih karena disaat aku ujian, ibuku sakit.

Hari terakhir ujian, aku pun berniat menjenguk ibuku dan menjaganya. Ayah mengantarku ke Rumah Sakit dimana ibu dirawat. Sesampai disana aku melihat ibuku berbaring dengan kedua tangan, dan kedua kakinya diikat, ibuku di infuse dan dihidungnya dikasih selang untuk makan melalui selang itu. Sungguh rasanya hatiku seperti diiris melihat ibuku seperti itu. Aku menangis, karena aku melihat dari wajahnya bahwa dia tidak mau seperti itu.

Beberapa hari dirawat di Rumah Sakit, kondisi ibuku bukan semakin membaik. Ia menjadi tidak mau berbicara, mungkin karena selang yang ada dihidungnya, membuat ibuku jadi sulit untuk berbicara. Kemudian karena ayah tahu kalau ibu merasa tidak betah. Akhirnya ibu dibawa pulang dengan keadaan lemah tak berdaya.

Di rumah ibu hanya berbaring lemah di tempat tidur. Ia tidak mau berbicara sepatah katapun kepada kami walaupun selang dihidungnya sudah dilepas. Setiap hari ibu seperti itu, hanya berbaring. Kami semua bingung harus melakukan apa. Kami hanya bisa berdoa setiap hari untuk kesembuhan ibu kami. Selama di rumah aku dan kakakku yang merawat ibu, kami memandikan ibu, memberi ia makan dan memberi minum obat.

Tapi kondisi ibu tetap saja seperti itu dan tidak ada perubahan. Akhirnya ayah menelepon keluarga ibuku yang ada di kampung. Dan ayah memberitahukan kondisi ibu pada saat itu. Keluarga ibu yang ada di kampung sepertinya sangat khawatir. Bude-kakak dari ibu- datang ke Jakarta. Setelah ia melihat kondisi ibuku, kakak kandung dari ibuku langsung terlihat sedih dan memeluk ibuku.

Waktu terus berjalan tapi kondisi ibu tidak jua sembuh. Ayah sepertinya sangat sedih dan khawatir. Ia sudah mengambil jalan pengobatan lain dengan menterapi ibu. Tapi hasilnya tidak ada tanda-tanda kesembuhan. Ayah menelepon nenek-ibu kandung ibuku- dan memberitahukan kondisi ibu yang tidak jua sembuh. Akhirnya ayah meminta nenek untuk ke Jakarta menjenguk ibuku. Sebenarnya nenek sudah sangat tua dan tidak mampu untuk ke Jakarta. Mungkin karena nenek ingin melihat anaknya, akhirnya nenek ke Jakarta.

Melihat ibu dengan kondisi seperti itu, nenek langsung memaafkan semua kesalahan ibuku. Ibuku mungkin tahu kehadiran nenek tapi ibu tetap diam dan tidak berkata apa-apa. Walaupun sudah ada nenek disamping ibu, tetap saja ibu tidak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan.

Pada saat itu kondisi ibu semakin parah, kami sekeluarga panik. Aku dan kakak-kakakku terus berdoa. Kemudian kakak pertamaku membawa ibuku kembali ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, ibuku langsung ditangani secara cepat. Salah satu dari suster tersebut berbicara kepada kami “ untung kalian cepat membawa kesini, kalau tidak ibu kalian sudah tidak ada.” Aku dan kakakku menangis tersedu-sedu mendengar perkataan suster tersebut.

Tidak berapa lama kemudian ayahku datang, dia sedang bekerja. Mendengar ibuku kembali dibawa ke rumah sakit, ayah langsung minta izin pulang. Ibuku kemudian dibawa ke ruang ICU. Berharap di ruang tersebut ibu kami cepat sembuh. Tapi kenyataannya ibuku kondisinya tidak membaik. Hanya tetap seperti itu berbaring lemah tak berdaya. Bahkan tubuh ibuku terlihat membesar karena banyak infuse dan obat yang masuk kedalam tubuh ibuku.

Sudah 2 minggu ibuku berbaring di ICU. Ayah sudah terlihat sangat bingung harus berbuat apa. Akhirnya ayah memutuskan untuk membawa ibu pulang ke kampung halamanya. Mungkin menurut bapak jika ibu berada di kampung, ibu akan lebih baik.

Kami sekeluarga bersiap-siap untuk mengantar ibu ke tempat kelahiran ibu. Bersama ayah, kedua kakakku, aku, nenek, bude, bule-adik kandung ibuku- dan sahabatku rina. Kami semua mengantar ibu menggunakan mobil yang disewa ayah. Dan ibuku dibawa menggunakan mobil ambulan.

Dalam perjalanan kami semua berdoa agar selamat sampai tujuan. Perjalanan dari Jakarta menuju kampung halaman ibuku kira-kira menempuh waktu 1 hari. Akhirnya sampai disana, ibuku segera dibawa ke rumah sakit yang dekat dengan rumah ibuku. Di rumah sakit yang dituju ternyata peralatan yang digunakan tidak mampu untuk membantu ibuku yang kondisinya sudah semakin melemah.

Ibuku pun akhirnya dibawa ke kota Jogja  dan dirujuk ke rumah sakit yang peralatanya lebih memadai. Sampai disana ibuku langsung ditangani, aku melihat kondisi ibuku sungguh sangat membuat hatiku sakit. Aku hanya bisa menangis dan berdoa melihat keadaan ibuku.

Di Jogja, ibuku kembali dirawat di ICU. Akulah yang menunggu ibuku selama beliau dirawat. Aku ditemani bude dan bule menjaga ibu. Selama disana ibuku masih tetap seperti itu, tidak ada perubahan sama sekali terhadap kondisinya. Setiap hari aku mendoakan ibuku agar penyakit yang dideritanya cepat sembuh. Begitu pula ayah dan kakak-kakakku yang selalu mendoakan ibu. Aku yakin ibu pasti sembuh, karena ibu dapat bertahan dengan kondisi seperti itu.

Hari berganti hari, kondisi ibu sama sekali tidak berubah. Hatiku mulai resah, setiap kali kulihat ibu berbaring seperti itu, aku selalu menangis. Ingin rasanya aku berteriak dan melepas semua alat-alat yang menempel ditubuh ibuku dan membawa segera ibuku pulang. Tapi itu tak mungkin.

Aku disini,,

Menunggu ibu berdiri lagi,,

Sambil menghitung hari,,

Menahan diri,,

Entah sampai kapan,,

Ku hanya bisa berharap dan berdoa,,

Kepada Yang Maha Kuasa,,

Semoga ibu dapat berdiri kembali,,

Tetap aku disini,,

Bertahan menanti,,

Dirimu,,

Ibuku,,

Kutulis puisi itu untuk kupersembahkan kepada ibuku dan kutunjukkan kepadanya. Ku bacakan kata demi kata. Aku tak tahu saat itu ibu melihat atau tidak, tapi aku yakin ibu pasti mendengar puisi yang kubacakan untuknya.

30 hari sudah ibuku dirawat, kondisi ibuku semakin memburuk. Pada saat itu aku bingung harus berbuat apa. Ibu terlihat sudah tidak kuat untuk bertahan, nafasnya terengah-engah dibantu alat dokter untuk bernafas yang aku tidak tahu nama alat itu. Badan ibuku semakin panas, matanya sudah tidak sanggup untuk membuka. Sungguh aku tidak tega melihat keadaan ibuku seperti itu. Aku keluar dan tidak ingin melihat karena aku tak sanggup bila melihatnya. Aku menangis sejadi-jadiku. Karena aku tidak mau ibu pergi meninggalkanku. Aku memberitahukan kondisi ibu pada ayahku, aku meminta maaf kepada ayahku, karena tidak bisa menjaga ibu dengan baik. Kemudian ayahku dengan bijak berkata “itu bukan salahmu, jika ibu pergi itu karena kehendak Allah swt.

Akhirnya karena ibu tidak sanggup menahan, ibu menghembuskan nafas terakhirnya setelah ba’da ashar. Aku terus meminta kepada Allah agar Allah tidak mencabut nyawa ibuku. Tapi apa daya ku, jika Allah sudah berkehendak maka terjadilah. Ibuku pergi jauh untuk selamanya.

Ibuku disemayamkan di tempat kelahirannya. Nenekku yang melihat anaknya sudah tiada, hanya bisa menangis dan dia berkata “ kenapa bukan aku saja yang Engkau ambil.” Banyak orang yang berdatangan untuk menyelawat ibuku, meskipun orang-orang sudah sangat lama tidak mengetahui ibuku.

Saat ibuku dimandikan aku ikut memandikannya, aku mengelus badan ibuku yang putih dan bersih. Setelah itu ibuku dikafankan. Ibuku akan disemayamkan esok hari setelah ayah dan kakak-kakakku datang.

Keesokan harinya, ayahku datang bersama kakak-kakakku. Wajah ayah terlihat sangat sedih dan frustasi. Ayah tidak lansung melihat ibu, ia kekamar dan menangis. Sebelumnya aku belum pernah melihat ayah seperti itu. Ayah sungguh sangat terpukul. Mungkin hatinya hancur berkeping-keping. Tapi ayah adalah seorang ayah yang sabar. Ia menerima semuanya dan pasrah kepada Allah.

Kini kami hanya berempat tanpa pendamping ibu. Kami yakin ibu sudah tenang disana. Setiap hari kami selalu mendoakan ibu.

Ingatlah..

Namamu sudah terukir lekat dihatiku. Seseorang yang sangat kurindukan. Ku ingin bertemu. Walau ku tak tahu saat itu tiba. Tapi aku selalu menanti disini atau disana. Dalam doaku, Allah pasti memberikan tempat terindah untukmu. Dan dalam hidupku, kaulah sosok yang terindah sempurnakan hidupku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: